Selasa, 28 Juni 2011

ABK Tunadaksa

Pengertian, dan Klasifikasi Anak Tunadaksa
Istilah anak berekebutuhan khusus tunadaksa merupakan istilah lain dari cacat tubuh /tuna fisik, yaitu berbagai kelainan bentuk tubuh yang mengakibatkan kelainan fungsi dari tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan yang dibutuhkan. Kita akan segera mengenal apabila melihat atau bertemu dengan anak tuna daksa. Agar pemahaman Anda lebih mendalam akan dikemukakan mengenal pengertian, dan klasifikasi anak tuna daksa tersebut.
Apabila kita aktif dalam pembahasan ini maka kita diharapkan  akan mampu menjelaskan butir-butir di atas dan tentu dapat membantu kita dalam melaksanakan proses pembelajaran. Oleh karena itu, kita diharapkan membaca dengan cermat uraian dan contoh berikut.
2.1       PENGERTIAN ANAK TUNADAKSA
            Anak tunadaksa sering disebut dengan istilah anak cacat tubuh, cacat fisik, dan cacat ortopedi. Istilah tunadaksa berasal dari kata “tuna” yang berarti rugi atau kurang dan “daksa” yang berarti tubuh. Tuna daksa adalah anak yang memiliki anggota tubuh yang tidak sempurna. Sedangkan istilah cacat tubuh dan cacat fisik dimaksudkan untuk menyebut anak cacat pada anggota tubuhnya, bukan cacat indranya. Selanjutnya istilah cacat ortopedi terjemahan dari bahasa Inggris orthopedically handicapped. Ortopedic mempunyai arti yang berhubungan dengan otot, tulang, dan persendian. Dengan demikian, cacat ortopedi kelainannya terletak akibat adanya kelainan yang terletak pada pusat pengatur sistem otot, tulang dan persendian.
            Anak tuna daksa dapat didefinisikan sebagai penyandang bentuk kelainan atau kecacatan pada sistem otot, tulang dan persendian yang dapat mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi, dan gangguan perkembangan keutuhan pribadi. Salah satu definisi mengenai anak tuna daksa menyatakan bahwa anak tunadaksa adalah anak penyandang cacat jasmani yang terlihat pada kelainan bentuk tulang, otot, sendi maupun saraf-sarafnya. Istilah tuna daksa maksudnya sama dengan istilah yang berkembang seperti : cacat tubuh, tuna tubuh, tuna raga, cacat anggota badan, cacat orthopedic, crippled, dan orthopedically handicapped. Selanjutnya Samuel A Kirk (1986) yang dialihbahasakan oleh Moh. Amin dan Ina Yusuf Kusumah (1991 : 3) mengemukakan bahwa seseorang dikatakan anak tuna daksa jika kondisi fisik atau kesehatan mengganggu kemampuan anak untuk berperan aktif dalam kegiatan sehari-hari, sekolah atau rumah. Sebagai contoh, anak yang mempunyai lengan palsu tetapi ia dapat mengikuti kegiatan sekolah, seperti Pendidikan Jasmani atau ada anak yang minum obat untuk mengendalikan gangguan kesehatannya maka anak-anak jenis itu tidak termasuk penyandang gangguan fisik. Tetapi jika kondisi fisik tidak mampu memegang pena, atau anak sakit-sakitan (mengidap penyakit kronis) sering kambuh sehingga ia tidak dapat bersekolah secara rutin maka anak itu termasuk penyandang gangguan fisik (tuna daksa).
2.2       KLASIFIKASI ANAK TUNA DAKSA
            Agar lebih mudah memberikan layanan terhadap anak tuna daksa, perlu adanya sistem penggolongan (klasifikasi). Penggolongan anak tuna daksa bermacam-macam. Salah satu di antaranya dilihat dari sistem kelainannya yang terdiri dari :
(1)   kelainan pada sistem cerebral (cerebral system) dan
           Penyandang kelainan pada sistem cerebral, kelainannya terletak pada sistem saraf pusat, seperti cerebral palsy (CP) atau kelumpuhan otak. Cerebral palsy ditandai adanya kelainan gerak, sikap atau bentuk tubuh, gangguan koordinasi, kadang-kdang disertai gangguan psikologis dan sensoris yang disebabkan oleh adanya kerusakan atau kecacatan pada masa perkembangan otak.
Menurut derajat kecacatannya, cerebral palsy diklasifikasikan menjadi :
1)      ringan, dengan ciri-ciri, yaitu dapat berjalan tanpa alat bantu, bicara jelas, dan dapat menolong diri,
2)      sedang, dengan ciri-ciri : membutuhkan bantuan untuk latihan berbicara, berjalan, mengurus diri, dan alat-alat khusus, seperti brace, dan
3)      berat, dengan cirri-ciri : membutuhkan perawatan tetap dalam ambulasi, bicara, dan menolong diri.
Sedangkan menurut letak kelainan otak dan fungsi geraknya cerebral palsy dibedakan atas :
(1) spastik, dengan ciri seperti terdapat kekakuan pada sebagian atau seluruh ototnya,
(2) dyskenesia, yang meliputi a’hetosis (penderita memperlihatkan gerak yang tidak terkontrol), rigid (kekakuan pada seluruh tubuh sehingga sulit dibengkokkan), tremor (getaran kecil yang terus menerus pada mata, tangan atau kepala),
(3) ataxia (adanya gangguan keseimbangan, jalannya gontai, koordinasi mata dan tangan tidak berfungsi, serta
(4) jenis campuran (seorang anak mempunyai kelainan dua atau lebih dari tipe-tipe di atas).
(2) kelainan pada sistem otot dan rangka (musculus skeletal system).
            Soeharso (1982) mendefinisikan cacat cerebral palsy sebagai suatu cacat yang terdapat pada fungsi otot dan urat saraf dan penyebabnya terdapat dalam otak. Kadang-kadang juga terdapat gangguan pada panca indra, ingatan dan psikologis (perasaan).
      Golongan anak tunadakasa berikut ini tidak mustahil akan belajar bersama dengan anak normal dan banyak ditemukan pada kelas-kelas biasa. Penggolongan anak tunadaksa dalam kelompok kelainan sistem otot dan rangka tersebut adalah sebagai berikut :
1. Poliomyelitis
      Ini merupakan suatu infeksi pada sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh virus polio yang mengakibatkan kelumpuhan dan sifatnya menetap. Dilihat dari sel-sel motorik yang rusak, kelumpuhan anak polio dapat dibedakan menjadi :
a.   tipe spinal, yaitu kelumpuhan atau kelumpuhan pada otot-otot leher, sekat dada, tangan dan kaki
b.   tipe bulbeir, yaitu kelumpuhan fungsi motorik pada satu atau lebih saraf tepi dengan ditandai adanya gangguan pernapasan
c.   tipe bulbispinalis, yaitu gabungan antara tipe spinal dan bulbair
d.   encephalitis yang biasanya disertai dengan demam, kesadaran menurun, tremor, dan kadang-kadang kejang
                  Kelumpuhan pada Polio sifatnya layu dan biasanya tidak menyebabkan gangguan kecerdasan atau alat-alat indra. Akibat penyakit Poliomyelitis adalah otot menjadi kecil (atropi) karena kerusakan sel saraf, adanya kekakuan sendi (kontraktur), pemendekan anggota gerak, tulang belakang melengkung ke salah satu sisi, seperti huruf S (Scoliosis), kelainan telapak kaki yang membengkok ke luar atau ke dalam, dislokasi ( sendi yang ke luar dari dudukannya), lutut melenting ke belakang (genu recorvatum).
2. Mucle Distrophy
                  Jenis penyakit yang mengakibatkan otot tidak berkembang karena mengalami kelumpuhan yang sifatnya progresif dan simetris. Penyakit ini ada hubungannya dengan keturunan.
3. Spina bifida
                  Merupakan jenis kelainan pada tulang belakang yang ditandai dengan terbukanya satu atau 3 ruas tulang belakang dan tidak tertutupnya kembali selama proses perkembangan. Akibatnya fungsi jaringan saraf terganggu dan dapat mengakibatkan kelumpuhan, hydrocephalus, yaitu pembesaran pada kepala karena produksi cairan yang berlebihan. Biasanya kasus ini disertai dengan ketuna grahitan.
2.3    Pembelajaran Pendidikan Anak Tunadaksa
            Dalam Kegiatan Belajar 2 ini Anda akan diajak untuk mengkaji beberapa hal yang berhubungan dengan layanan pendidikan anak tuna daksa, seperti tujuan pendidikan anak tuna daksa, tempat pendidikan, sistem pendidikan, dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bagi anak tuna daksa.
A.    TUJUAN PENDIDIKAN ANAK TUNADAKSA
               Tujuan pendidikan anak tuna daksa mengacu pada peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1991 agar peserta didik mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya,  dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan. Connor (1975) dalam musyafak Asyari (1995) mengemukakan bahwa dalam pendidikan anak tuna daksa perlu dikembangkan 7 aspek yang diadaptasikan sebagai berikut.

      1.      Pengembangan Intelektual dan Akademik
               Pengembangan aspek ini dapat dilaksanakan secara formal di sekolah melalui kegiatan belajar. Di sekolah khusus anak tuna daksa (SLB-D) tersedia seperangkat kurikulum dengan semua pedoman pelaksanaannya, namun hal yang lebih penting adalah pemberian kesempatan dan perhatian khusus pada anak tuna daksa untuk mengoptimalkan perkembangan intelektual dan akademiknya.
      2.      Membantu Perkembangan Fisik
               Karena anak tuna daksa mengalami kecacatan fisik maka dalam proses pendidikan guru harus turut bertanggung jawab terhadap pengembangan fisiknya dengan cara bekerja sama dengan staf medis. Hambatan utama dalam belajar adalah adanya gangguan motorik. Oleh karena itu, guru harus dapat mengatasi gangguan tersebut sehingga anak memperoleh kemudahan dalam mengikuti pendidikan. Guru harus membantu memelihara kesehatan fisik anak, mengoreksi gerakan yang salah dan mengembangkan ke arah gerakan yang normal.
      3.      Meningkatkan Perkembangan Emosi dan Penerimaan Diri Anak
               Dalam proses pendidikan, para guru bekerja sama dengan psikolog harus menanamkan konsep diri yang positif terhadap kecacatan agar dapat menerima dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif sehingga dapat mendorong terciptanya interaksi yang harmonis.
      4.      Mematangkan Aspek Sosial
               Aspek sosial yang meliputi kegiatan kelompok dan kebersamaannya perlu dikembangkan dengan pemberian peran kepada anak tuna daksa agar turut serta bertanggung jawab atas tugas yang diberikan serta dapat bekerja sama dengan kelompoknya.
      5.      Mematangkan Moral dan Spritual
               Dalam proses pendidikan perlu diajarkan kepada anak tentang nilai-nilai, norma kehidupan dan keagamaan untuk membantu mematangkan moral dan spritualnya.

      6.      Meningkatkan Ekspresi Diri
               Ekspresi diri anak tuna daksa perlu ditingkatkan melalui kegiatan kesenian, keterampilan, atau kerajinan.
      7.      Mempersiapkan Masa Depan Anak
               Dalam proses pendidikan, guru dan personil lainnya bertugas untuk menyiapkan masa depan anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membiasakan anak bekerja sesuai dengan kemampuannya, membekali mereka dengan latihan keterampilan yang menghasilkan sesuatu yang dapat dijadikan bekal hidupnya.
               Ketujuh sasaran pendidikan tersebut di atas sebenarnya bersifat dual purpose {ganda), yaitu berkaitan dengan pemulihan fungsi fisik dan pengembangan dalam pendidikannya. Tujuan utamanya adalah terbentuknya kemandirian dan keutuhan pribadi anak tuna daksa.
B. TEMPAT PENDIDIKAN
            Model layanan pendidikan yang sesuai dengan jenis, derajat kelainan dan jumlah didik diharapkan akan memperlancar proses pendidikan. Anak tuna daksa dapat mengikuti pendidikan pada tempat-tempat berikut.
      1.     Sekolah Khusus Berasrama (Full-Time Residentila School)
                  Model ini diperuntukkan bagi anak tuna daksa yang derajat kelainannya berat dan sangat berat.
      2.     Sekolah Khusus tanpa Asrama (Special Day School)
                  Model ini dimaksudkan bagi anak tuna daksa yang memiliki kemampuan pulang pergi ke sekolah atau tempat tinggal mereka yang tidak jauh dari sekolah.
      3.     Kelas Khusus Penuh (Full-Time Special Class)
                  Anak tuna daksa yang memiliki tingkat kecacatan ringan dan kecerdasan homogeny dilayani dalam kelas khusus secara penuh.     
     4.   Kelas Reguler dan Khusus (Part-Time Reguler Class and Part-Time Special Class)
                  Model ini digunakan apabila menyatukan anak tuna daksa dengan anak normal, pada mata pelajaran tertentu. Mereka belajar dengan anak normal dan apabila anak tuna daksa mengalami kesulitan mereka belajar di kelas khusus.
     5.      Kelas regular Dibantu oleh Guru Khusus (Reguler Class with Supportive       Instructional  Service)
                  Anak tuna daksa bersekolah bersama-sama anak normal di sekolah umum dengan bantuan guru khusus apabila anak mengalami kesulitan.
      6.     Kelas Biasa dengan Layanan Konsultasi untuk Guru Umum (Reguler Class Placement with Consulting Service for Reguler Teacher)
                  Tanggung jawab pembelajaran model ini sepenuhnya dipegang oleh guru umum. Anak tuna daksa belajar bersama dengan anak normal di sekolah umum, dan untuk membantu kelancaran pembelajaran ada guru kunjung yang berfungsi sebagai konsultan guru reguler.
      7.     Kelas Biasa (Reguler Class)
                  Model ini diperuntukkan bagi anak tuna daksa yang memilki kecerdasan normal, memiliki dan kemampuan yang dapat belajar bersama-sama dengan anak normal.
C. SISTEM PENDIDIKAN
            Sesuai dengan pengorganisasian tempat pendidikan maka sistem pendidikan anak tuna daksa dapat dikemukakan sebagai berikut.
      1.   Pendidikan Integrasi (Terpadu)
            Walaupun pendidikan anak tuna daksa di Indonesia banyak dilakukan melalui jalur sekolah khusus, yaitu anak tuna daksa ditempatkan secara khusus di SLB-D (Sekolah Luar Biasa bagian D), namun anak tuna daksa ringan (jenis poliomyelitis) telah ada yang mengikuti pendidikan di sekolah biasa. Sementara ini anak tuna daksa yang mengikuti pendidikan di sekolah umum harus mengikuti pendidikan sepenuhnya tanpa memperoleh program khusus sesuai dengan kebutuhannya. Akibatnya mereka memperoleh nilai hanya berdasarkan hadiah terutama dalam mata pelajaran yang berkaitan dengan kegiatan fisik. Sehubungan dengan itu Kirik (1986) mengemukakan bahwa adaptasi pendidikan anak tuna daksa apabila ditempatkan di sekolah umum adalah sebagai berikut.
      a.   Penempatan di kelas regular
            Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
      1)   Menyiapkan lingkungan belajar tambahan sehingga memungkinkan anak tuna daksa untuk bergerak sesuai dengan kebutuhannya, misalnya membangun trotoar, pintu agak besar sehingga anak dapat menggunakan kursi roda
      2)   Menyiapkan program khusus untruk mengajar ketinggalan anak tuna daksa karena anak sering tidak masuk sekolah
      3)   Guru harus mengadakan kontak secara intensif dengan siswanya untuk melihat masalah fisiknya secara langsung
      4)   Perlu mengadakan rujukan ke ahli terkait apabila timbul masalah fisik dan kesehatan yang lebih parah
      b.   Penempatan di ruang sumber belajar dan kelas khusus
            Murid yang mengalami ketinggalan dari temannya di kelas reguler karena ia sakit-sakitan diberi layanan tambahan oleh guru di ruang sumber. Murid yang datang ke ruang sumber tergantung pada materi pelajaran yang menjadi ketinggalannya. Sedangkan siswa yang mengunjungi kelas khusus biasanya anak yang mengalami kelainan fisik tingkat sedang dengan inteligensia normal. Misalnya anak yang tidak dapat berbicara maka ia perlu masuk kelas khusus sebagai persiapan anak untuk memasuki kelas reguler karena selama anak di kelas khusus ia sering bermain, ke kantin, dan upacara bersama dengan anak normal ( siswa reguler).
             Sistem pendidikan ruang sumber belajar telah diujicobakan di SLB-D YPAC Bandung selama lima tahun dengan cara melakukan proses belajar mengajar di Ruang Sumber Belajar (RSB). Hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa: RSB lebih dapat meningkatkan potensi anak secara optimal, karena di RSB terdapat banyak sumber dan alat-alat yang dapat membantu pemahaman anak dalam belajar. Disamping itu juga anak sambil latihan bergerak dengan berpindah antar RSB, anak tidak mudah bosan dan pengajaran yang diberikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak.
      1.   Tujuan Belajar di RSB
                   Secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi anak seoptimal mungkin, dan secara khusus agar anak Tuna daksa dapat mandiri baik dalam mengurus dirinya sendiri maupun dapat menghidupi dirinya. Minimal menjadi lebih baik atau selangkah lebih maju dari apa yang telah dimiliki anak.
2.   Proses Belajar di RSB
Langkah-langkah belajar di RSB melalui prosedur sebagai berikut:
ATD→PENGELOMPOKAN→ASSESMEN→PENYUSUNAN PROGRAM (IEP)→ PELAKSANAAN PBM DI RSB→EVALUASI→Hasil pembelajaran (FOLLOW UP).
Berdasarkan proses tersebut, maka RSB ditata sesuai dengan kurikulum yang digunakan, yaitu meliputi:
a.       Ruang assesmen
b.      Ruang program umum yang terdiri dari semua bidang studi yang diajarkan, yaitu: RSB Agama, RSB Bahasa, RSB Matematika, RSB IPA, RSB IPS, RSB PPKN,RSB Kesenian, RSB Keterampilan, dan RSB Penjaskes
c.        Ruang program khusus yang terdiri dari: RSB Bina Diri, RSB Bina Gerak, dan RSB Bina Bicara.
d.      Ruang program muatan lokal yang terdiri dari: RSB Kesenian Daerah
e.       Ruang program pilihan yang terdiri dari: RSB Pertukangan, menjahit, memasak, komputer, fotograpi, dll.
3.   Cara Belajar di RSB
 Sebelum belajar di RSB, ATD perlu diklasifikasikan sesuai dengan kriteria menjadi kelompok akademik, kelompok keterampilan, kelompok pengembangan, dan kelompok Autis. Kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan assesmen per anak sebagai dasar penyusunan program. Adapun jenis asesmen yang dilakukan meliputi:
1)      Pengumpulan data kemampuan dan ketidakmampuan fisik tentang: kekuatan  otot-otot, luas daerah gerak sendi (Range of Motion/ROM), kemampuan motorik halus dan motorik kasar, dan kemampuan gerak dasar tubuh yang dilakukan oleh Fisioterapist dan dokter ahli rehabilitasi
2)      Pengumpulan data kemampuan psikis tentang: tingkat kecerdasan, bakat, minat, dan emosi, dilakukan oleh Psikolog
3)      Pengumpulan data kemampuan akademik dan keterampilan dasar tentang: calistung, bidang studi, dan aktivitas kehidupan sehari-hari (Aktivity of Daily Living/ADL) dilakukan oleh guru-guru
4)      Pengumpulan data kemampuan sosialnya, dilakukan oleh guru dan sosial worker
5)      Pengumpulan data kemampuan keterampilan/vocasional dilakukan oleh guru keterampilan.
b.   Penyusunan Program
1) Program kelompok disusun sebagai berikut:
a)       Kelompok akademik programnya sesuai kurikulum yang disesuaikan dengan kemampuan nyata anak.
b)       Kelompok keterampilan programnya: Calistung dan keterampilan dasar sesuai dengan kemampuannya.
c)       Kelompok pengembangan programnya: sosialisasi, bermain, dan day care
d)      Kelompok autis, programnya individual
2) Program individual disusun berdasarkan kemampuan masing-masing anak
c.     Pelaksanaan Program Belajar di RSB
Proses belajar mengajar di RSB dilaksanakan per kelompok yang kemampuannya sama atau hampir sama. Proses belajarnya bertitik tolak pada kemampuan masing-masing anak dengan berprinsip pada individualisasi pengajaran.
d.    Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan baik pada saat proses belajar berlangsung maupun setelah selesai (Evaluasi proses dan hasil).
e.     Bimbingan Belajar
Bagi ATD yang mengalami kesulitan dalam belajar perlu diberikan bimbingan baik secara individual maupun secara kelompok dengan remedial teaching.
f.       Pembinaan Karier dan Pekerjaan
Kegiatannya dimulai sejak melakukan asesmen kemampuan keterampilan dasar oleh guru keterampilan dan psikolog untuk mengetahui kemampuan dan minatnya. Selanjutnya disusun programnya sesuai dengan kondisi kemampuan dan kecacatan anak. Pelaksanaannya diintegrasikan dalam proses belajar mengajar. Bagi siswa pasca sekolah perlu pembinaan dan latihan-latihan khusus untuk mempersiapkan pekerjaannya.
      2.   Pendidikan Segregasi (Terpisah)
                  Penyelenggaraan pendidikan bagi anak tuna daksa yang ditempatkan di tempat khusus,  seperti sekolah khusus adalah menggunakan kurikulum Pendidikan Luar Biasa Anak Tuna daksa 1994 . Perangkat Kurikulum Pendidikan Luar Biasa 1994 terdiri atas komponen berikut :
a.   Landasan, Program dan Pengembangan Kurikulum, memuat hal-hal yaitu landasan yang dijadikan acuan dan pedoman dalam pengembangan kurikulum, tujuan, jenjang, dan satuan pelajaran, program pengajaran yang mencakup isi program, pengajaran, lama pendidikan, dan susunan, program pengajaran, pelaksanaan pengajaran dan penilaian, serta pengembangan kurikulum sebagai suatu proses berkelanjutan di tingkat nasional dan daerah.
  b.  Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) memuat : pengertian dan fungsi mata pelajaran, tujuan, ruang lingkup bahan pelajaran, pokok bahasan, tema dan uraian tentang kedalaman dan keleluasan, alokasi waktu, rambu-rambu pelaksanaannya, dan uraian atau acara pembelajaran yang disarankan.
  c.  Pedoman pelaksanaan kurikulum memuat : pedoman pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, rehabilitasi, pelaksanaan bimbingan, administrasi sekolah, dan pedoman penilaian kegiatan dan hasil belajar.
Pelayanan pendidikan bagi anak tunadaksa di sekolah khusus ini diperuntukkan bagi anak yang mempunyai problema lebih berat, baik problema penyerta intelektualnya seperti retardasi mental maupun problema penyerta kesulitan lokomosi (gerakan) dan emosinya.
Di sekolah khusus  pelayanan pendidikannya dibagi menjadi dua unit, yaitu unit sekolah khusus bagi anak tunadaksa ringan, dan unit sekolah khusus bagi anak tunadaksa sedang.
1.      Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Ringan (SLB-D)
Pelayanan pendidikan diunit tunadaksa ringan atau SLB-D diperlukan bagi anak tunadaksa yang tidak mempunyai problema penyerta retardasi mental, yaitu anak tunadaksa yang mempunyai intelektual rata-rata atau bahkan di atas rata-rata intelektual anak normal. Namun anak kelompok ini belum ditempatkan di sekolah terpadu/sekolah umum karena anak masih memerlukan terapi-terapi, seperti fisio terapi, speech therapy, occuppational therapy dan atau terapi yang lain. Dapat juga terjadi anak tunadaksa tidak ditempatkan di sekolah reguler karena derajad kecacatannya terlalu berat.
2.      Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Sedang (SLB-D1)
Pelayanan pendidikan diunit ini, diperuntukkan bagi anak tunadaksa yang mempunyai problema seperti, emosi, persepsi atau campuran dari ketiganya disertai problema penyerta retardasi mental. Kelompok anak tunadaksa sedang ini mempunyai intelektual di bawah rata-rata anak normal.
      Lama pendidikan dan penjenjangan serta isi kurikulum tiap jenjang adalah sebagai berikut :
      a. TKLB (Taman Kanak-kanak Luar Biasa) berlangsung satu sampai tiga tahun dan isi kurikulumnya, meliputi pengembangan Kemampuan Dasar (moral pancasila, agama,disiplin,perasaan,emosi,dan kemampuan bermasyarakat), Pengembangan Bahasa, Daya pikir, Daya Cipta, Keterampilan dan Pendidikan Jasmani. Usia anak yang diterima sekurang-kurangnya 3 tahun.
      b. SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa) berlangsung sekurang-kurangnya enam tahun dan usia anak yang diterima sekurang-kurangnya enam tahun. Isi kurikulumnya terdiri atas : Program Umum, meliputi mata pelajaran  Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, IPS,IPA, Kerajinan Tangan dan Kesenian, serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, program khusus (Bina Diri dan Bina Gerak), dan Muatan Lokal (Bahasa Daerah, Kesenian, dan Bahasa Inggris).
      c. SLTPLB (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa) berlangsung sekurang-kurangnya 3 tahun, dan siswa yang diterima harus tamatan SDLB. Isi kurikulumnya terdiri atas program umum (Pendidikan Pancasila, Kewarganegaraan,Pendidikan Agama,Bahasa Indonesia, Matematika,IPA, IPS,Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Bahasa Inggris, Program Khusus (Bina diri dan bina gerak), Program Muatan Lokal (bahasa daerah,kesenian daerah).
      d. SMLB (Sekolah Menengah Luar Biasa) berlangsung sekurang-kurangnya tiga tahun, dan siswa yang diterima harus tamatan SLTPLB. Isi kurikulumnya, meliputi program umum sama dengan tingkat SLTPLB, program pilihan terdiri atas paket Keterampilan Rekayasa, Pertanian, Usaha dan perkantoran, kerumah tanggaan, dan kesenian. Di jenjang ini, anak tuna daksa diarahkan pada penguasaan salah satu jenis keterampilan sebagai bekal hidupnya.
                  Lama belajar dan perimbangan bobot mata pelajaran untuk setiap jenjang adalah TKLB lama belajar satu jam pelajaran 30 menit, SDLB lama belajar satu jam pelajaran 30 dan 40 menit. Bobot mata pelajaran di SDLB yang tergolong akademik lebih banyak dari mata pelajaran yang lainnya, SLTPLB lama belajar satu jam pelajaran 45 menit dan bobot mata pelajaran keterampilan dan praktek lebih banyak dari pada pelajaran lainnya, dan SMLB lama pelajaran sama dengan SLTPLB dan bobot mata pelajaran keterampilan lebih banyak dan mata pelajaran lainnya lebih diarahkan pada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
D.  PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
      Dalam pelaksanaan pembelajaran akan dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan           keterlaksanaannya, seperti berikut
1.      Perencanaan Kegiatan Belajar-Mengajar
            Sehubungan dengan perencanaan kegiatan pembelajaran bagi anak tuna daksa, Ronald L. Taylor (1984) mengemukakan, apabila penyandang cacat menerima pelayanan pendidikan di sekolah formal maka ia harus memperoleh pelayanan pendidikan yang di individualisasikan. Dalam rangka mengembangkan program pendidikan yang di individualisasikan, banyak informasi atau data yang diperlukan dan salah satunya dihasilkan melalui asesmen. Adapun langkah-langkah utama dalam merancang suatu program pendidikan individual (PPI) adalah sebagai berikut :
a.   Membentuk Tim Penilai Program Pendidikan yang di individualisasikan (TP31), yang mencakup guru khusus, guru regular, diagnostician, kepala sekolah, orangtua, siswa, serta personel lain yang diperlukan.
b.   Menilai kekuatan dan kelemahan serta minat siswa yang dapat dilakukan dengan asesmen.
c.   Mengembangkan tujuan-tujuan jangka panjang dan saran –saran jangka pendek.
d.   Merancang metode dan prosedur pencapaian tujuan.
e.   Menentukan metode dan evaluasi kemajuan.
2. Prinsip Pembelajaran
        Prinsip Pembelajaran Ada beberapa prinsip utama dalam memberikan pendidikan pada anak tuna daksa sebagai berikut :
a.          Prinsip multisensory (banyak indra)
Proses pendidikan anaka tuna daksa sedapat mungkin memanfaatkan dan mengembangkan indra-indra yang ada dalam diri anak karena banyak anak tuna daksa yang mengalami gangguan indra. Dengan pendekatan multisensory, kelemahan pada indra lain dapat difungsikan sehingga dapat membantu proses pemahaman.

b.         Prinsip Individualisasi
Individualisasi mengandung arti bahwa titik tolak layanan pendidikan adalah kemampuan anak secara individu. Model layanan pendidikannya dapat berbentuk klasikal dan individual. Dalam model klasikal, layanan pendidikan diberikan pada kelompok individu yang cenderung memiliki kemampuan yang hampir sama, dan bahan pelajaran yang diberikan pada masing-masing anak sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.
3.  Penataan Lingkungan
           Berhubungan anak tuna daksa mengalami gangguan motorik maka dalam mengikuti pendidikan membutuhkan perlengkapan khusus dalam lingkungan belajarnya. Gedung sekolah sebaiknya dilengkapi ruangan atau sarana tertentu yang memungkinkan dapat mendukung kelancaran kegiatan anak tuna daksa disekolah. Bangunan-bangunan gedung sebaiknya dirancang dengan memprioritaskan 3 kemudahan, yaitu anak mudah keluar masuk, mudah bergerak dalam ruangan, dan mudah mengadakan penyesuaian atau segala sesuatu yang ada di ruangan itu mudah digunakan.
Beberapa kondisi khusus mengenai gedung adalah sebagai berikut :
a.   Macam-macam ruangan khusus, seperti ruang poliklinik atau UKS untuk pemeriksaan dan perawatan kesehatan anak, ruang untuk latihan bina gerak (physiotheraphy), ruang untuk bina bicara (speech therapy), ruang untuk bina diri, terapi okupasi, dan ruang bermain, serta lapangan.
b.   Jalan masuk menuju sekolah sebaiknya dibuat keras dan rata yang memungkinkan anak tuna daksa yang memakai alat bantu ambulasi seperti kursi roda, tripor,brace, kruk, dan lain-lain, dapat bergerak dengan aman.
c.   Tangga sebaiknya disediakan jalur lantai yang dibuat miring dan landai.
d.   Lantai bangunan baik di dalam dan di luar gedung sebaiknya dibuat dari bahan yang tidak licin.
e.   Pintu-pintu ruangan sebaiknya lebih lebar dari pintu biasa dan daun pintunya dibuat mengatup ke dalam.
f. Untuk menghubungkan bangunan atau kelas yang satu dengan yang lain sebaiknya disediakan lorong (koridor) yang lebar dan ada pegangan di tembok agar anak dapat mandiri berambulasi.
g.   Pada beberapa dinding lorong dapat dipasang cermin besar untuk digunakan anak mengoreksi sendiri sikap atau posisi jalan yang salah.
h.   Kamar mandi atau kecil sebaiknya dekat dengan kelas-kelas agar anak mudah dan segera dapat menjangkaunya.
i.    Dipasang WC duduk agar anak tidak perlu berjongkok pada waktu menggunakannya.
j.    Kelas sebaiknya dilengkapi dengan meja dan kursi yang konstruksinya disesuaikan dengan kondisi kecacatan anak, misalnya tinggi meja kursi dapat disetel, tanganan, dan sandaran kursi dimodifikasi, dan dipasang belt (sabuk) agar aman.
E.  PERSONEL
Personel yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan anaka tunadaksa adalah sebagai berikut :
1.  Guru yang berlatar belakang pendidikan luar biasa, khususnya pendidikan anak tuna daksa
2.  Guru yang memiliki keahlian khusus, misalnya keterampilan, kesenian
3.  Guru sekolah biasa
4.  Dokter umum
5.  Dokter ahli ortopedi
6.  Neurolog
7.  Ahli terapi lainnya, seperti ahli terapi bicara, physiotherapist, dan bimbingan konseling, serta orthotist prosthetist
F.   BIMBINGAN BELAJAR
                  Anak Tuna daksa memerlukan bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ketiga kemampuan dasar ini perlu memperoleh layanan sedini mungkin sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak, manakala telah memasuki program sekolah dasar.
G.  PEMBINAAN KARIER dan PEKERJAAN
                  Untuk mempersiapkan masa depan anak, di sekolah perlu adanya pembinaan karier. Pengertian karir tidak dipandang hanya sebagai pekerjaan yang diberikan pada tamatan sekolah menengah atas, tetapi dibutuhkan oleh semua siswa sejak Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Pada jenjang TKLB dan SDLB materi pembahasannya adalah untuk memberikan pengertian dasar mengenai kemungkinan pekerjaan dalam hidup kelak dan memberikan kesadaran bahwa sekolah memberi kesempatan untuk bereksplorasi dalam mempersiapkan kehidupan kelak, sedangkan pada tingkatan yang lebih tinggi selain melanjutkan materi tersebut telah diarahkan pada prevokasional maupun vokasional.
                  Pembinaan karier dan pekerjaan dimulai dari kegiatan asesmen karir dan pekerjaan agar dapat menyusun program pembinaan karir dan vokasional yang sesuai dengan kondisi kemampuan.
                  Berkaitan dengan penyusunan program, Philip (1986) mengemukakan bahwa program yang disusun harus berbentuk IEP (Individualized Educational Program) yang mempunyai ciri-ciri sasaran untuk remidi bila siswa mengalami kesulitan dalam membaca formulir pekerjaan, berkomunikasi dengan menggunakan telepon, penggunaan uang dalam pekerjaan, dll. Salah satu contoh pogram IEP adalah pengembangan motorik halus untuk pekerjaan menjahit, pertanaman, mengatur makanan, dll.
                  Alur pembinaan karir dan pekerjaan dapat disajikan seperti berikut:
Asesmen → pemograman → proses → evaluasi → daya guna/tepat guna
E.  Alat Bantu untuk Tuna Daksa
Anak tuna daksa mengalami gangguan motorik dan mobilitas,intelegensi, baik secara sebagian atau keseluruhan.Hal yang penting dalam upaya menentukan apa yang dibutuhkan dapat mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan keadaanya.Alat yang digunakan
1.      asesmen anak tuna daksa adalah :
a.       Finger goniometer                               f.   TPD arsthesiometer
b.      Flexometer                                          g.   Gound rhytem tibre instrument
c.       Plastic goniometer                               h.   Cabinet geometric insert
d.      Reflex hammer                                    i.    Color sorting box (kotak berwarna)
e.       Posture evaluation set                         j.    Tactile board set (papan perabaan)

2.      Alat latihan fisik
a.       Pulley weight                          o.  kursi CP
b.      Kanavel table                          p.  individual stand-in table   
c.       Squeeze ball                            q.  walking parallel
d.      Restorator leg                          r.   walker khusus CP
e.       Restorator hand                      s.   vestibular board
f.       Treadmill jogger                      t.   balance beat set
g.      Safety walking strap               u.   dynamic body and balance
h.      Straight                                   v.   kolam bola - bola
i.        Sand bag                                 w.  vibrator
j.        Exercise mat                            x.   infra red lmap (infra fill)
k.      incline mat                               y.  dual speed masangger
l.        neuro development rolls          z.  speed training devices
m.    height adjustable crowl           z.  bola karet
n.       floor sitter                              z.  balok berganda dan titian
1)      Alat Bina diri
a.       Swivel utensil
b.      Dressing frame set
c.       Lacing shoes
d.      Deluxe mobile commade
2)      Alat orthotic dan prosthetic

a.       Cock – up resting splint
b.      Rigid immobilitation elbow brace
c.       Flexion extention
d.      Back splint
e.       Denish browans splint
f.       SX splint
g.      O splint
h.      Long leg brace set
i.        Ankle or short leg brace
j.        Original Thomas collar
k.      Simple cervical brace
l.        Corsett
m.    Crutch
n.      Clubfoot walker shoes
o.      Thomas heel shoes
p.      Wheel chair
q.      Kaki palsu sampai paha

3)      Alat bantu belajar/akademik
a.       Kartu abjad
Kita bias memperlihatkan warna pada bentuk abjad itu atau memilih warna yang disukainya. Semisalnya abjad itu huruf “C” maka kita dapat memberikan contoh dengan menjelaskan bentuk bulan sabit dan pada abjad tersebut dengan warna yang bermacam-macam ataupun yang disukainya. Begitu juga dengan huruf “O” maka kita dapat memeberi penjelasan dengan contoh bentuk suatu beola dan bentuk-bentuk lingkaran.
b.      Kartu kata
Kita bias mengenalkan anak dengan disajikannya gambar wortel, apel, hewan-hewan yang bertuliskan dibawah gambar tersebut menurut masing-masing gambar.
c.       Kartu kalimat
Kita dapat menggabungkan suatu objek yang beruba gambar-gambar yang berisi tentang suatu kegiatan contohnya ibu sedang memasak, orang yang sedang memancing. Nah, dari gambar-gambar itu dapat dijadikan suatu kalimat dan disajikan kartu kalimatnya sebagai kunci jawabannya.
                       
d.      Torso seluruh badan               
e.       Geometri sharpe
f.       Menara gelang                Yaitu anak dapat melatik gerakan otot-otot secara
g.      Menara segetiga             sederhana. Misalnya keatas, kebawah, kesamping dan
h.      Menara segiempat          ditingkatkan dengan gerakan yang menyenangkan
i.        Papan pasak                   dengan alat bantu berupa mainan-mainan yaitu
Menara gelang, Menara segetiga, Menara segiempat, dan Papan pasak.
j.        Gelas rasa
k.      Botol aroma
l.        Abacus dan washer
m.    Kotak bilangan
Fungsi pembelajaran kotak bilangan untuk melatih motoriknya dalam kognitif contohnya suatu bentuk-bentuk yang disetiap sisinya ada bertuliskan angka-angka sehingga pengenalan angka itu akan lebih menarik.

2 komentar:

  1. Assalamualaikum
    numpang tanya, apakah bekas patah tulang karena penyembuhannya tak sempurna bisa dikatakan sebagai tuna daksa juga?

    BalasHapus
  2. walaikumsalam....
    mf bru bls...
    menurut saya..
    bukan trmasuk tunadaksa..
    krn jk motorik x msh bs brfungsi tetapi cm bekas patah tulang dan dikarena penyembuhan yg tdk sempurna itu blm bs d kta kan tunadaksa. dan itu bs dikatakan proses pnyembuhanx aja kemunginan ada sdkt kesalahan..
    dan jikapun tunadaksa pst ada gangguan2 lain yg dpt meyakinkan untk disebut tunadaksa..

    BalasHapus